Thursday, April 23, 2015

PARA WANITA DALAM PERISTIWA KEBANGKITAN


PARA WANITA DALAM PERISTIWA KEBANGKITAN
Markus 16:1-8; 1 Korintus 15:3-4

Di dalam Alkitab, kaum wanita memang sudah lama hidup dalam masyarakat patriarkhal karena umumnya mereka tinggal di lingkungan rumah atau keluarga yang seringkali mendapat perlindungan dari ayah, suami atau laki-laki lain dalam keluarga tersebut, kecuali beberapa wanita yang mampu menjadi pemimpin.
Banyak pandangan atau pendapat yang mengatakan bahwa dalam Perjanjian Lama kedudukan seorang perempuan dianggap kurang penting dan kurang diperhitungkan keberadaannya. Hal ini nampak pada bentuk kemasyarakatan dalam tradisi dan budaya Israel yang menganut system/hubungan kekeluargaan. Sistem/hubungan kekeluargaan ini dipelihara dalam bentuk silsilah. Silsilah ini tidak hanya menggambarkan hubungan darah, tetapi juga hubungan ekonomi, status sosial, dan kekuasaan yang dapat terlihat di dalam satu kelompok/suku.
Seorang ayah atau laki-laki dewasa juga sangat berperan untuk maju berperang demi melindungi negerinya dan keluarganya, sehingga dalam kebudayaan Israel, ayah atau laki-laki dewasa memiliki peranan yang sangat penting.

Akan tetapi di dalam masa pelayanan Tuhan Yesus, Tuhan Yesus seringkali bertemu dan berbicara dengan beberapa wanita sedemikian akrabnya, seperti halnya pada wanita Samaria di sumur Yakub yang akhirnya wanita tersebut menjadi saksi bagi banyak orang, khususnya di kota Samaria itu (Yoh 4:1-42). Tatkala seorang wanita yang tertangkap sedang berzinah dihadapkan kepadaNya, dengan lemah lembut Ia berkata kepadanya dan tidak menghukumnya (Yoh 8:1-11). Pada kesempatan lain, Tuhan Yesus mengizinkan seorang pelacur mendatangiNya ketika Ia sedang makan untuk membasahi kaki-Nya dengan air matanya, menyeka dengan rambutnya dan mencium kaki-Nya (Luk 7:36-50). Pada saat Ia bergumul menghadapi kematian, seorang wanita datang mengurapi-Nya dengan minyak narwastu. Para wanita juga yang berani berada dekat dengan Dia ketika dipaku di atas kayu salib dan mereka menyaksikan kematian-Nya. Mereka tidak pernah menyangkal Yesus, melainkan terus menyertai Yesus hingga Ia mati dan mayat-Nya diletakkan dalam lubang kubur. Selama kehidupan-Nya, Tuhan Yesus telah memperlihatkan sikap yang terbuka terhadap kaum wanita sama seperti kepada kaum pria.

Dalam peristiwa kebangkitan Kristus yang dikatakan oleh rasul Paulus didalam 1 Korintus 15:3-4 sebagai “hal yang sangat penting” dalam iman kristen, karena melalui penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus inilah orang percaya telah dilepaskan dari kuasa dosa dan dari murka Allah. Dan kebangkitan Kristus memberikan jaminan serta pengharapan iman bagi orang percaya “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1 Kor 15:17).
Disini rasul Paulus menekankan bahwa kematian dan kebangkitan Kristus adalah rangkaian peristiwa yang menjadi inti Injil. Ia mati karena dosa-dosa manusia, dikuburkan dan dibangkitkan pada hari yang ketiga sesuai Kitab Suci (Yes 53:4-6,8,11-12; Hos 6:2; Yun 1:17).
Pada peristiwa kebangkitan Kristus sebagai suatu “hal yang sangat penting” seperti yang dikatakan rasul Paulus itulah ternyata memperlihatkan kepada kita tentang pentingnya peranan wanita.
Ada beberapa wanita yang menjadi saksi mata yang menyaksikan peristiwa kebangkitan itu untuk yang pertama kali. Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, dan Salome adalah mereka yang pertama kali diberi kepercayaan untuk mewartakan peristiwa kebangkitan Kristus tersebut. Sedangkan para murid Tuhan Yesus yang dianggap sebagai laki-laki yang lebih gagah dan kuat justru digambarkan sebagai orang yang mula-mula kurang percaya dan ragu-ragu terhadap kabar baik tentang kebangkitan Kristus.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam peristiwa kebangkitan Kristus yang disaksikan para wanita itu:

1.Kunjungan para wanita dikubur Yesus.(Markus 16:1-5)
Tujuan para wanita berkunjung ke kubur Yesus adalah untuk meminyaki mayat Yesus sebagai bentuk hormat dan kasih mereka kepadaNya menurut adat/kebiasaan mereka.
Ada satu hal yang mereka cemaskan saat mereka datang kekubur Yesus, "Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?", kata mereka seorang kepada yang lain. Kecemasan dan keluhan itu wajar karena keterbatasan fisik para wanita itu, karena batu penutup lubang kubur sangat besar. Tetapi apa yang mereka anggap sebagai kesulitan justru diselesaikan Allah bagi mereka. Ketika mereka berada dekat dengan kuburan, mereka melihat bahwa batu yang sangat besar itu sudah terguling.
Keterbatasan fisik pada wanita apabila dibandingkan dengan kaum pria inilah yang seringkali membuat wanita “seolah” tidak berdaya dalam keterbatasannya tersebut. Kecemasan yang muncul akibat keterbatasan fisik wanita ini seringkali justru membuat potensi sebenarnya yang ada dalam diri wanita sulit untuk berkembang. Dan yang lebih daripada hal itu, kecemasan dalam diri wanita akan keterbatasannya justru dapat mempersempit ruang gerak iman dan pengharapan kepada Tuhan untuk dapat bertumbuh. Sehingga yang dilihat hanyalah masalah yang ada didepannya dan ketidakberdayaannya dalam menghadapi masalah tersebut. Sehingga kemudian gagal untuk dapat melihat Tuhan dan kuasaNya yang ajaib yang ada dibalik permasalahan yang muncul.
Dalam peristiwa kebangkitan Kristus yang disaksikan oleh para wanita yang datang ke kubur Yesus, kesulitan yang muncul tentang siapa yang akan menggulingkan batu besar penutup kubur Yesus dikerjakan secara sempurna oleh Allah sendiri.

2. Respon terhadap berita dan perintah yang disampaikan malaikat. (Markus 16:7)
Respon para wanita tersebut ketika menyaksikan mayat Yesus sudah tidak ditempatnya dan mereka melihat malaikat Tuhan berdiri disitu adalah takut, gentar dan dahsyat. Hal ini juga menimbulkan ketidakpercayaan serta keragu-raguan. (bdk. Mat 28:17). Tetapi kepada mereka yang sedang diliputi ketakutan dan keraguan tersebut, malaikat Tuhan yang berada dikubur Yesus katakan “Jangan takut!”.
Menjadi saksi bagi peristiwa kebangkitan Kristus diawali dengan penegasan Allah sendiri melalui malaikat-Nya, bahwa Yesus telah bangkit! Namun penegasan itu tidak akan ada artinya bila para wanita itu masih dikuasai oleh rasa ketakutan. Oleh karena itu, "Jangan takut" adalah pernyataan pertama yang paling dibutuhkan oleh orang yang mau menjadi saksi kebangkitan Kristus. Mereka  yang takut, Tuhan berikan penghiburan dan peneguhan untuk memiliki hati yang berani. Dan dengan keberanian yang baru itu, para wanita itu siap menerima kabar baik bahwa Yesus telah bangkit, dan kemudian siap menjadi saksi bagi kebangkitan Kristus.Mereka kemudian menyampaikan berita kebangkitan itu kepada murid-murid laki-laki Yesus, yaitu Petrus dan teman-teman, dan pada akhirnya berita kebangkitan Kristus itu terus tersebar semakin luas dan semakin jauh sampai ke masa kini.

Para wanita memegang peranan penting dalam pelayanan, kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus. Tuhan Yesus tidak mengabaikan peranan para wanita dalam melayani-Nya semasa hidup dan pelayananNya didunia ini. Perempuan yang mengiring pelayanan Tuhan Yesus diberi tempat dan tanggung jawab yang tidak kalah pentingnya dari para murid yang laki-laki.  Di hadapan Allah, perempuan sepadan dengan laki-laki. Artinya, tidak lebih rendah atau lebih tinggi, karena Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam sebagai "penolong yang sepadan" bagi Adam (Kej. 2:18, 21-22). Soli Deo Gloria!

Friday, March 27, 2015

HIDUP MENJADI MILIK TUHAN


HIDUP MENJADI MILIK TUHAN
Galatia 2: 20
Namun aku hidup, tetapi bukan aku lagi sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang didalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Dalam pengenalan kita orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus terdapat  dua aspek kebenaran iman yang penting untuk dipahami dan imani:
Pertama, karya Kristus diatas kayu salib menebus manusia dari dosa maut & memberikan keselamatan.  Kedua, manusia berdosa yang telah ditebus dan dibebaskan dari perbudakan dosa telah menjadi milik kepunyaan  Allah. Aspek yang kedua ini sama pentingnya dengan aspek yang pertama, sebab aspek ini menegaskan kepada kita tujuan dari karya penebusan Kristus. Bahwa kita yang telah ditebus dan dibebaskan dari kuasa dosa bukan supaya kita menjadi orang-orang yang kemudian hidup sebebas-bebasnya semau sendiri dan mengikuti arus dunia yang berdosa, namun kita hidup bagi Allah, memuliakan Allah dan melayani Dia, karena kita telah menjadi milik/kepunyaan Allah. Dan kehidupan diluar Allah adalah hidup dalam perbudakan dosa, hal ini berarti dosa menguasai dan menjadi tuan dari seseorang yang hidup diluar Kristus.

Menyadari bahwa dosa-dosa kita telah ditebus oleh Kristus dan sekarang kita telah menjadi milik Allah, apa yang kita harus kita sadari dan lakukan?

PERUBAHAN HIDUP
Tanda bagi orang percaya dimana Kristus telah hidup didalamnya adalah adanya perubahan hidup. Di sini Paulus berkata, "Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku."  Dalam hal ini rasul Paulus menyatakan bahwa "aku" yang telah disalibkan bersama Kristus ini adalah "aku" yang lama, dari manusia lama Paulus. Dan "aku" yang sekarang hidup adalah "aku" yang baru dimana Kristus hidup didalam diri Paulus. Secara sederhana dapat dipahami, bahwa “aku” dari manusia lama tidak seharusnya hidup lagi,  sebaliknya Kristuslah yang harus hidup, di dalam kehidupan kita. Inilah aspek dasar dari kebenaran Injil.
Inilah alasannya mengapa Paulus berkata bahwa hidup yang dia jalani sekarang adalah hidup bagi Kristus dan dia bukan hidup bagi dirinya sendiri lagi, namun Kristuslah yang hidup dalam diri Paulus.
            Untuk memulai satu perubahan dalam hidup memang tidak mudah, apalagi perubahan tersebut harus berbalik 180 derajat dari hal yang sudah biasa dijalani sekian waktu lamanya dan sudah menjadi satu kebiasaan bahkan telah menjadi suatu gaya hidup. Daya tarik dan godaan keindahan serta kenikmatan dunia yang berdosa seringkali menghambat bagi orang percaya untuk meninggalkan manusia lamanya yang penuh dosa dan berubah menjadi manusia baru yang dikehendaki Allah. Oleh karena itu tidak jarang terjadi orang yang telah percaya kepada Kristus sebagai Juru Selamat, tapi masih tidak dapat lepas sepenuhnya dari belenggu kenikmatan dosa.
Bahkan saat orang percaya telah dapat hidup sebagai manusia baru didalam Kristus, tetapi bayang-bayang kehidupan manusia lama dengan segala daya tariknya seringkali menjadi penghambat bagi pertumbuhan iman. Dalam hal ini rasul Paulus mengatakan dalam Filipi 3:13, “...aku melupakan apa yang telah dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang ada dihadapanku.”
Didalam Lukas 17:32  Tuhan Yesus mengatakan “Ingatlah akan istri Lot!”. Disini Tuhan Yesus menjelaskan kepada pendengar-Nya (orang-orang Farisi dan Murid-murid-Nya) tentang bagaimana Kerajaan Allah akan dinyatakan.  Dalam penjelasan-Nya, Yesus memberikan contoh tentang sebuah kasus dalam Perjanjian Lama (Kej 19:1-29), yaitu tentang riwayat keluarga Lot khususnya istri Lot. Di saat kota dan tetangga-tetangganya mengalami kepunahan oleh amarah Allah karena dosa-dosa mereka, isteri Lot mendapat hak istimewa untuk diselamatkan. Tetapi yang terjadi adalah, istri Lot memilih tidak taat dan mengabaikan keselamatan yang sudah menunggunya. Isteri Lot telah “memalingkan dirinya” dari keselamatan yang sudah ada di depannya. Dan alkitab mencatat dengan segera istri Lot menjadi tiang garam, yaitu sebuah kondisi yang tidak dapat diubah lagi.
Menoleh ke belakang juga berbicara mengenai saat di mana kita selalu mengingat masa lalu kita yang mungkin saja itu manghalangi kita untuk masuk dalam rencana Allah.
Ini adalah peringatan apabila kita memandang rendah keselamatan yang sudah disediakan Tuhan Yesus. Jika bermain-main dengan kelamatan yang mahal harganya itu dan memandangnya sebagai anugerah yang murahan, kemudian berpikir sedikit tidak taat dan sedikit berpaling pada keindahan dan kenikmatan dunia yang penuh dosa tidak akan apa-apa.”Tiang garam adalah monumen ketidaktaatan istri Lot mengingatkan kita untuk tidak menyia-nyiakan keselamatan.
Memang menjadi umat milik Allah yang telah ditebus dan diselamatkan dari dosa maut itu seolah terikat dan tak enak, dan secara dunia seolah tak perlu. Tetapi bagi kita orang percaya yang telah menjadi umat milik kepunyaan Tuhan harus menyadari bahwa hidup itu bukan milik kita tetapi milik Kristus.


HIDUP YANG MELAYANI
Apabila Kristus telah hidup dalam kehidupan kita berarti kita telah menjadi milik kepunyaan Allah. Dan sebagai milik/kepunyaan Allah, maka sudah selayaknya apabila kita menjalankan hidup bagi Tuhan dan melayaniNya. Hidup yang melayani adalah tujuan penciptaan diri kita, kita dicipta Tuhan sebagai mahluk yang ada dan hidup untuk memuliakan Tuhan.
Hidup bagi Tuhan dan melayani Tuhan bukanlah sebuah beban atau perbudakan, namun melayani Tuhan adalah kehidupan yang sesuai dengan tujuan penciptaan diri kita. Kita dicipta Tuhan sebagai mahluk yang ada dan hidup untuk memuliakan Tuhan.
Saat manusia tidak lagi mau hidup sesuai dengan tujuan penciptaannya, maka tujuan hidup manusia akan berpusat pada diri sendiri yang mencari kesenangan dan kebahagiaan dari yang ditawarkan oleh dunia yang penuh dosa. Kesenangan dan kebahagiaan dunia hanya bersifat semu dan sementara yang pada akhirnya jiwanya akan dipenuhi oleh dengan kekosongan dan kehampaan.
Sebaliknya, saat kita hidup sesuai dengan tujuan Allah menciptakan kita yaitu hidup untuk memuliakan dan melayani Dia, maka hidup kita akan dibuat Tuhan menjadi bermakna, dipenuhi sukacita dan damai sejahtera didalam jiwa kita.
Kita ada dan hidup adalah untuk memuliakan dan melayani Tuhan. Kita dapat memuliakan dan melayani Tuhan melalui panggilan kita masing-masing, baik dalam konteks pelayanan gereja maupun segala aktifitas/pekerjaan. Jika semuanya itu kita melakukannya untuk Tuhan, maka itu sudah merupakan sebuah pelayanan dan sebuah ibadah yang memuliakan Tuhan dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Soli Deo Gloria

Tuesday, February 24, 2015

PRIBADI YANG BERKENAN DIHATI TUHAN



PRIBADI YANG BERKENAN DIHATI TUHAN

Allah mengangkat Daud menjadi raja  mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku  dan yang melakukan segala kehendak-Ku. Dan dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus.” (KPR. 13:22-23)

Dalam KPR 13:13-49 mengisahkan ketika Paulus dan Barnabas berada di kota Antiokhia di Pisidia. Mereka datang di rumah ibadat Yahudi di kota itu dan berkhotbah disana dua kali hari sabat berturut-turut.
Dalam khotbahnya, rasul Paulus kembali mengingatkan orang-orang Yahudi untuk melihat sejarah bangsa Israel, bahwa mereka adalah umat Allah yang telah dipimpin oleh Allah sendiri untuk keluar dari perbudakan di Mesir sampai kemudian masuk ketanah perjanjian. Selanjutnya rasul Paulus menjelaskan tentang lahirnya Yesus Kristus dari keturunan Daud untuk menggenapi semua janji tentang Messias, yang kemudian mati disalib dan bangkit kembali dengan penuh kuasa.

Yang menarik  dalam kotbah rasul Paulus di Antiokhia di Pisidia ini menyebut Daud sebagai "...,Seorang yang berkenan di hatiKu dan yang melakukan segala kehendakKu (KPR 13:22)

Apa yang membuat Daud disebut sebagai pribadi yang berkenan di hati Tuhan?
Bukankah Daud adalah orang yang juga mempunyai kelemahan sehingga dalam suatu peristiwa ia terjatuh dalam dosa perzinahan dan kemufakatan untuk merencanakan pembunuhan?
Mengapa Paulus tidak mengambil contoh tokoh-tokoh Alkitab lain seperti Yusuf sebagai pribadi yang diperkenan Allah dan yang setia melakukan kehendak Allah?

Dari kehidupan Daud, rasul Paulus mendapatkan gambaran yang utuh dan jelas tentang keadaan manusia yang sesungguhnya yang tidak luput dari kesalahan dan dosa.
Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).

Memang Daud adalah manusia yang juga mempunyai kelemahan, namun dalam jalan-jalan  kehidupannya,  Daud  memiliki hubungan yang sangat baik dengan Allah. Bahkan saat-saat dia jatuh dalam dosa, Daud tidak menjauh dari Allah tetapi dia tetap menjalin hubungan yang baik dengan Allah dalam pertobatannya.
Sehingga rasul Paulus menyebut Daud sebagai pribadi yang berkenan dihati Allah dan yang dengan setia melakukan kehendak Allah.

Dari kehidupan pribadi Daud yang memiliki hubungan yang sangat baik dengan Allah inilah, kita dapat belajar untuk untuk dapat menjadi pribadi yang berkenan dihati Tuhan:

1.       Daud memiliki hubungan yang intim dengan Allah.

Kitab Mazmur merupakan kitab pujian dan penyembahan yang dipakai umat Israel dalam ibadah. Sebagian besar kitab Mazmur ditulis oleh Daud yang menggambarkan kedekatan hubungannya sebagai pribadi dengan Allah, dan juga hubungannya sebagai umat dengan Allah. didalamnya banyak terdapat nyanyian syukur, nyanyian pujian, dan nyanyian penyembahan kepada Allah. Juga doa-doa Daud kepada Allah yang bersifat pribadi (doa mohon pertolongan, perlindungan, penyelamatan dan doa permohonan pengampunan) sedangkan yang lainnya adalah doa-doa yang mewakili kebutuhan umat kepada Allah. Sebagai contoh,
·         “TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu.” (Mazmur 5:4)
·         Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain;....” (Maz. 84:10)
·         “...TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” (Maz. 23)

Contoh ayat-ayat tersebut adalah sebagian kecil dari Mazmur Daud ini menggambarkan sikap hati Daud yang senantiasa rindu untuk mengalami dan merasakan hadirat Allah setiap waktu. Ini adalah sikap hati yang dipenuhi kasih kepada Allah yang membawa dirinya untuk semakin Intim dengan Allah. Inilah sikap hati Daud yang berkarakter dalam hubungannya dengan Allah, sehingga Allah mengatakan bahwa Daud adalah seorang hamba yang  kepadanya Allah berkenan.

Bagaimana hubungan kita dengan Allah? Apakah kita telah memiliki kerinduan untuk setiap waktu senantiasa mengalami dan merasakan hadirat Allah seperti yang Daud lakukan?

2. Daud memiliki hati yang sabar dalam menantikan janji Allah dengan tetap menjaga hati dan kelakuan yang bersih di hadapan Tuhan.

Ketika raja Saul hidup tidak lagi berkenan kepada Tuhan, maka nabi Samuel disuruh ke rumah keluarga Isai untuk mengurapi Daud sebagai raja Israel menggantikan Saul (I Samuel 16 : 13). Tetapi pengurapan Daud sebagai raja atas Israel itu tidak serta merta tahta kerajaan langsung jatuh ketangan Daud. Daud harus menunggu lama sekali (kurang lebih 13 tahun) untuk hal itu digenapi dalam dirinya. Dan dalam masa menunggu janji Allah digenapi dalam dirinya, Daud tidak memaksakan kehendak pribadinya untuk menjadi raja walaupun dia memiliki dua kali kesempatan emas untuk membunuh Saul. Dalam I Samuel 24:5–8 dan I Samuel 26:10–12 dikisahkan tentang keberadaan Daud yang memiliki posisi yang sangat tepat saat itu untuk dapat membunuh Saul yang mengejarnya dan beritikat untuk membunuhnya. Kepada para pengikutnya Daud justru mengatakan “Dijauhkan TUHANlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.” (I Sam 24:7) Dalam hal ini Daud mentaati kebenaran Firman Tuhan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Dan Daud tidak menggunakan kesempatan untuk membunuh raja Saul hanya demi memuaskan ambisi pribadinya untuk menjadi raja.
Inilah karakter Daud dalam menjaga hubungan pribadinya dengan Allah, yaitu dengan bersabar menantikan waktu Tuhan digenapi atas dirinya dengan tetap menjaga hati dan kelakuan yang bersih di hadapan Tuhan.

Bagaimana kita menjaga hubungan pribadi kita dengan Allah? Apakah kita memiliki hati yang sabar dalam menantikan janji Tuhan tergenapi dalam diri kita dengan tetap menjaga hati dan kelakuan kita yang bersih di hadapan Tuhan?

3.       Daud memiliki hati yang terbuka untuk menerima teguran.
Setelah Daud menjadi raja dan telah 20 tahun memerintah atas Israel dalam kejayaan, maka ada suatu peristiwa yang membuat Daud jatuh dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba istri Uria. Dan demi menutupi dosanya tersebut Daud bermufakat untuk “membunuh” Uria dengan mengirimnya kegaris depan medan pertempuran. Daud berusaha menutupi dosa-dosanya tersebut dengan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa dan semua baik-baik saja. Namun kemudian Allah mengutus nabi Natan datang menjumpai Daud dan membongkar semua dosanya. Bagaimanakah reaksi Daud ketika ia ditegur keras oleh nabi Natan? Marah dan kemudian membunuh nabi natan? (Bandingkan dengan reaksi Herodes ketika Yohanes Pembabtis menegurnya karena mengambil Herodias istri saudaranya sebagai Istrinya. Lukas 3:19-20; Matius 14:1-12)
“Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.... (II Samuel 12:13). Sebagai bukti pertobatannya Daud berpuasa dengan tekun dan berbaring di tanah 7 hari lamanya  (II Samuel 12:16). Dan Daud juga menuliskan pengakuan dosanya itu dalam Mazmur 51. Adalah sangat tidak mudah untuk mempunyai sikap terbuka untuk teguran dan segera bertobat atas dosanya seperti yang dilakukan Daud. Ini adalah satu karakter luar biasa yang dimiliki Daud yang membuat ia disebut sebagai seorang yang berkenan di hati Tuhan.

Bagaimana sikap hati kita ketika menerima teguran atas kesalahan atau dosa yang telah kita perbuat?
Apabila Allah menyingkapkan suatu dosa dalam diri kita, seharusnya kita memiliki sikap hati yang terbuka dan memiliki keberanian untuk mengakuinya, serta meminta ampun kepada-Nya seperti yang dilakukan oleh Daud. Karena hal ini mendatangkan perkenanan di hati Tuhan walaupun kita telah melakukan kesalahan atau dosa dihadapanNya.

Kehidupan pribadi Daud adalah pribadi yang senantiasa memelihara hubungan yang intim dengan Allah, bahkan saat dia jatuh dalam dosa sekalipun dia tetap menjalin hubungan yang baik dengan Allah dengan pertobatannya.
Dan sebagai orang percaya kita dapat belajar dari teladan pribadi Daud ini untuk kita dapat menjadi pribadi yang berkenan dihati Allah. Soli Deo Gloria!