Tuesday, December 29, 2015

REFLEKSI AKHIR TAHUN

REFLESI AKHIR TAHUN:
PEMELIHARAAN TUHAN SEPANJANG TAHUN
(ULANGAN 11:1-15)

Untuk kehidupan yang lebih baik, manusia dipengaruhi oleh tiga fase dalam perjalanan hidupnya. Pertama adalah masa lalu. Masa lalu dapat dijadikan satu pelajaran atau pengalaman  yang berharga untuk menentukan apa yang akan dikerjakan saat ini. Kedua adalah saat ini. Saat ini adalah apa yang sedang dikerjakan dalam hidup yang akan menentukan kehidupan yang lebih baik dimasa depan. Ketiga adalah masa depan. Masa depan adalah pengharapan untuk kehidupan yang lebih baik yang ditentukan oleh apa yang sedang dikerjakan saat ini.
Baik dalam kehidupan sekuler  ataupun kehidupan spiritual tiga fase hidup manusia ini sangat mempengaruhi dan menentukan akan apa yang hendak dicapai dalam hidup manusia dimasa depan.
Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, Musa dalam kotbah terakhirnya sebelum dia mati, dan sebelum bangsa Israel masuk kedalam tanah perjanjian juga mengingatkan bangsa Israel akan tiga fase kehidupan dalam sejarah bangsa Israel untuk kehidupan ya g lebih baik dimasa depan saat mereka hidup ditanah perjanjian, yaitu:
Pertama, apa yang Allah telah kerjakan (ayat 2-5).
Disini Musa mengingatkan kembali kepada bangsa Israel yang akan masuk dalam tanah perjanjian, akan apa yang telah Allah perbuat kepada bangsa Mesir saat mereka keluar dari Mesir. Bagaimana tangan Allah yang kuat dan lenganNya yang teracung kepada Firaun yang mencoba menahan bangsa Israel untuk tetap menjadi budak di Mesir (3). Dan bagaimana Allah menenggelamkan Firaun dengan kereta kudanya dan bala tentara di laut Teberau (4).  Serta bagaimana Allah memelihara kehidupan bangsa Israel saat mereka merantau di padang gurun selama empatpuluh tahun lamanya (5).
Apa yang Allah telah kerjakan  dalam kehidupan bangsa Israel inilah yang Musa hendak ingatkan kembali kepada bangsa Israel yang hendak masuk tanah perjanjian. Supaya bangsa Israel dapat menentukan langkah hidup yang tepat sesuai dengan kehendak Tuhan saat mereka hendak masuk kedalam tanah perjanjian.
Kedua. Apa yang bangsa Israel harus kerjakan (ayat 13)
Mengingat kembali akan apa yang Allah telah kerjakan dalam hidup bangsa Israel, maka Musa dalam kotbah terakhirnya sebelum dia mati memberikan tuntunan akan apa yang bangsa Israel harus kerjakan sebelum masuk tanah perjanjian.  Yaitu megasihi Tuhan dan beribadah kepadaNya degan segenap hati dan segenap jiwa mereka (13). Itulah yang harus mereka kerjakan untuk maraih masa depan yang lebih baik, yaitu mendiami negri sebagai bangsa yang merdeka, dan Tuhan akan melimpahkan berkatNya atas mereka.
Ketiga, Apa yang Allah akan kerjakan (ayat 12)
Saat bangsa Israel mau mengerjakan dengan setia seperti apa yang Musa katakan, yaitu mengasihi Allah dan setia beribadah kepadaNya dengan segenap hati dan jiwa. Maka Allah melalui Musa menyatakan janjiNya, “...mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.” (12) artinya, sepanjang tahun Allah akan senantiasa memelihara dan memberkati  bangsa Israel  dengan memberi hujan awal (saat masa menanam) dan hujan akhir (saat masa panen) sehingga bangsa Israel  hidup berkecukupan bahkan berkelimpahan (14-15).
Saat kita berada di penghujung tahun 2015 ini, mari kita sejenak melihat kebelakang akan apa yang Allah telah kerjakan dalam kehidupan kita selama 365 hari yang telah terlewati, maka kita akan dapat melihat bagaimana pemeliharaan Tuhan dalam jalan-jalan kehidupan kita disepanjang tahun ini. Memang harus diakui bahwa 52 Minggu yang telah kita lewati itu tidak semuanya berjalan seperti apa yang kita harapkan. Terkadang kita diperhadapkan pada kegagalan, kesedihan dan dukacita. Tapi saat kita dapat berdiri dipenghujung tahun ini, berarti Tuhan telah menolong  dan memampukan kita untuk dapat melewati itu semua.
Dan saat kita tetap setia untuk mengasihi Tuhan dan beribadah kepadaNya dengan segenap hati dan jiwa kita, maka janji Tuhan ini akan menjadi bagian kita saat kita hendak masuk ditahun yang baru,
“Tetapi negeri, kemana kamu hendak pergi memdudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah, yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit; suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mataTUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun” (Ul 11:11-12)

Selamat menyongsong Tahun Baru 2016. Soli Deo Gloria. (JAP)

Thursday, December 17, 2015

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN
Lukas 1: 26-38; 46-56
(Masa Advent ke-4, menyambut Natal)

Sebelum peristiwa kelahiran Yesus, Maria ibu Yesus diperhadapkan pada 2 fakta penting dalam hidupnya. Pada satu sisi Maria mendapatkan berita dari malaikat bahwa ia mendapatkan kasih karunia Allah bahwa ia akan mengandung dan melahirkan anak laki-laki (Luk. 30-31) yang akan menjadi besar dan akan disebut sebagai Anak Allah Yang Maha tinggi, dan Allah akan mengaruniakan kepadaNya tahta Daud. Dia akan menjadi Raja dan kerajaanNya tidak akan berkesudahan (Luk. 1: 32-33). Kabar yang membahagiakan karena ia terpilih diantara semua wanita untuk mendapatkan karunia Allah itu.
Akan tetapi pada sisi yang lain ada ketakutan dan kekuatiran yang dialaminya ketika menghadapi kenyataan dalam dirinya bahwa ia mengandung disaat dia belum bersuami (Luk. 1:34). Dan karena statusnya yang belum bersuami tersebut dia akan diperhadapkan pada sangsi sosial dan etika yang berlaku dalam masyarakat pada masa itu. Perasaan kebingungan, kuatir dan takut atas berita dari malaikat tersebut tentunya merupakan perasaan yang normal dialami oleh Maria sebagai manusia biasa.
Saat menghadapi kenyataan hidup yang dialaminya tersebut, dalam Lukas 1: 46-56 disebutkan Maria justru menyatakan nyanyian pujian kepada Allah yang disebut sebagai Magnifikat Maria. Inti dari pujian Maria tersebut adalah, Maria tetap mempercayai kedaulatan Allah yang telah memberinya kasih karunia, ditengah kekuatiran dan ketakutan yang dialami. Sehingga dengan sepenuh hati Maria dapat mengatakan, "jiwaku memuliakan Tuhan".
Yang menjadi dasar bagi Maria yang dengan sepenuh hati menyatakan, "jiwaku memuliakan Tuhan" ada dalam isi nyanyian pujian Maria (magnifikat) tersebut.
I. Bersukacita karena perbuatan Allah yang besar (Luk. 1: 48-49)
Dalam kekuatiran dan ketakutan Maria ketika harus menerima kenyataan bahwa dirinya hamil saat masih belum bersuami yang membuatnya terancam sangsi sosial dalam masyarakat, Maria lebih melihat kepada rencana besar Allah untuk menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan akibat dari dosa, dari Maria memikirkan kondisi dirinya sendiri. Tentunya tidak mudah bagi Maria untuk mengikuti rencana Allah tersebut dalam dirinya. Maria hampir ditinggalkan oleh Yusuf tunangannya, dan saat hampir waktunya untuk bersalin harus menempuh perjalanan dari Nazaret ke Betlehem, tidak mendapatkan tempat yang layak untuk bersalin, dan sesaat setelah Yesus lahir dia harus mengungsi ke Mesir untuk menghindari tentara-tentara Herodes yang membunuh semua anak- anak laki-laki yang berusia dibawah 2 tahun.
"Jiwaku memuliakan Allah" yang dikatakan oleh Maria bukan hanya suatu teori yang mengharuskan bagi setiap orang percaya untuk senantiasa bersyukur dan memuji Tuhan. Tapi benar-benar suatu pengalaman pribadi Maria yang terus memuji dan memuliakan Allah ditengah kekuatiran dan ketakutan yang dialaminya.
Dalam setiap perayaan natal selalu menghadirkan rasa syukur dan sukacita karena Allah telah hadir didunia untuk mencari dan menyelamatkan manusia dari kebinasaan dosa. Akan tetapi ditengah rasa syukur dan sukacita natal, seringkali umat Tuhan diperhadapkan pada permasalahan dan kenyataan hidup yang sulit yang menekan hati dan perasaan untuk tidak dapat bersyukur dan bersukacita dalam menyambut natal.
Melalui nyanyian pujian Maria yang menyatakan dengan sepenuh hati "jiwaku memuliakan Tuhan", hal ini hendaknya menjadi refleksi pribadi kita untuk dapat dengan sepenuh hati menyatakan "jiwaku memuliakan Tuhan" dalam menyambut natal, ditengah pergumulan hidup yang tengah kita alami.
II. Bersukacita karena Allah berdaulat atas hidup umatNya (Luk. 1: 51-53)
Dalam nyanyian pujian Maria, dia memuji Allah karena Dia berkuasa dan berdaulat atas hidup manusia. Dia dapat memperlihatkan kuasaNya, dan mencerai-beraikan orang yang congkak (Luk. 1:51) menurunkan orang dari tahtanya dan meninggikan orang yang rendah (Luk. 1:52) melimpahkan berkatNya bagi yang kekurangan dan membuat yang kaya pergi dengan tangan hampa (Luk . 1:53).
Pemahaman Maria akan Allah yang berdaulat penuh terhadap hidup manusia membuat dia tidak lagi takut akan kesulitan-kesulitan hidup yang dialaminya karena mengandung dan melahirkan bayi Yesus. Sehingga Maria dapat dengan sepenuh hati menyatakan, "jiwaku memuliakan Tuhan".
Meskipun saat ini mungkin kita diperhadapkan pada permasalahan hidup yang berat disaat hendak menyambut natal, pemahaman Maria akan kedaulatan Allah atas hidup manusia inilah yang seharusnya memotivasi kita untuk dengan sepenuh hati menyatakan, "jiwaku memuliakan Tuhan". Dalam kedaulatannya Allah sanggup meninggikan orang yang rendah, dan sanggup melimpahkan berkatNya bagi yang kekurangan, sanggup memulihkan keadaan dengan mengganti dukacita menjadi sukacita.
III. Bersukacita karena Allah setia terhadap janji (Luk. 1: 54-55)
Pada akhirnya Maria memuliakan Tuhan karena Dia adalah Allah yang setia terhadap janji. Kesetiaan Tuhan terhadap janji dinyatakan dengan pertolongan dan perlindungannya terhadap umat pilihanNya dari Abraham, Ishak dan Yakub serta keturunannya. RahmadNya selalu dinyatakan dari generasi ke generasi. Kesetiaan Allah terhadap umat pilihanNya inilah yang membuat Maria dengan sepenuh hati menyatakan, "jiwaku memuliakan Tuhan". Karena Dia percaya bahwa Allah akan menepati janji yang telah diucapkan malaikat kepadanya bahwa Anak yang dikandungnya akan menjadi Raja untuk selama-lamanya dan kerajaanNya tidak akan berkesudahan (Luk. 1:33)
Allah adalah Tuhan yang setia terhadap janji. Hal inilah yang seharusnya menjadi jaminan dan pengharapan untuk kehidupan yang lebih baik didalam Tuhan. Sehingga dalam menyambut natal tahun ini kita dapat dengan sepenuh hati menyatakan "Jiwaku memuliakan Tuhan". Amin. Soli Deo Gloria. (JAP)

Thursday, August 6, 2015

IMAN KRISTEN DITENGAH PERKEMBANGAN TEHNOLOGI

Iman Kristen Ditengah Perkembangan Tehnologi
Kej. 1: 27-28; 6: 14-16,22

Manusia adalah puncak dari ciptaan Allah ketika Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya (Kejadian 1) Dan karena Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, maka manusia disebut sebagai ciptaan Allah yang mulia, dia manusia diberikan napas kehidupan, serta dianugerahi akal budi, pikiran dan perasaan. Lewat akal budi inilah manusia mengembangkan pengetahuan mereka, sehingga terciptalah teknologi. Dan pada perkembangannya teknologi yang merupakan hasil dari akal budi manusia sudah demikian modern, sesuai dengan perkembangan zaman dan peradaban.
Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, akal budi manusia juga telah dikuasai oleh dosa. Dan ketika manusia yang berdosa melalui akal budinya dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan tehnologi, maka ilmu pengetahuan dan tehnologi manusia tersebut kecenderungannya digunakan untuk melawan Allah. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Babel (Kej. 11: 1-9). Ketika Allah mengacau-balaukan pembangunan menara Babel, yang ditentang Allah bukanlah pendirian kota dan menara Babelnya, tetapi kesombongan mereka dengan pengetahuan dan tehnologi yang dimilikinya, serta motivasi mereka yang ingin mencari nama dan ingin menyamai Allah (Kej 11: 4).
Akan tetapi bagi manusia yang tunduk dan taat akan Allah, akal budi yang berkembang dalam dirinya juga ditundukkan dibawah kedaulatan Allah. Sehingga ilmu pengetahuan dan tehnologi yang berasal dari akal budi manusia yang takut akan Allah akan digunakan untuk tujuan yang diinginkan Tuhan, yaitu untuk mengabdi dan memuliakan Allah serta memberikan kebaikan, manfaat dan kemudahan bagi umat manusia. Contoh dalam alkitab tentang manusia yang menggunakan akalbudi, pengetahuan dan tehnologinya untuk kemuliaan Allah dan kebaikan bagi sesama adalah Nuh. Allah memerintahkan Nuh membuat bahtera untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya dari kebinasaan akibat air bah akibat kebobrokan moral dunia pada waktu itu. Dimensi ruang dalam bahtera ataupun bahan yang digunakan telah ditentukan oleh Allah, (Kej 6: 14-15) dan Nuh dengan akal budi dan pengetahuannya mengerjakan apa yang diperintahkan Allah tersebut dengan tepat yaitu untuk membuat bahtera seperti yang Allah kehendaki untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya ( Kej. 6:22).
Dari tinjauan Alkitab ini bisa disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan dan tehnologi yang merupakan hasil dari akal budi manusia telah dimulai sejak awal sejarah manusia. Manusia memiliki daya cipta karena dia diciptakan sebagai gambar Allah dan sebagai pribadi yang berakal budi.
Lalu bagaimana hubungan antara iman Kristen dengan tehnologi pada saat ini?
Dalam satu sisi tehnologi dapat memberikan manfaat kebaikan bagi sesama dan menolong orang percaya untuk memuliakan Allah, sehingga iman orang percaya terbangun karenanya (kisah Nuh sebagai contoh).
Akan tetapi disisi lain tehnologi akan memberikan dampak negatif bagi manusia, ketika tehnologi telah menggeser posisi Allah dalam hidup manusia. Manusia tidak lagi hidup berserah dan mengandalkan Allah, tetapi hidupnya menjadi tergantung dengan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang berasal dari akal budi manusia (Kisah orang-orang Babel sebagai contoh).

Inilah salah satu tantangan bagi orang percaya atau gereja pada masa kini ditengah kemajuan ilmu pengetahuan di zaman modern ini. Akankah orang percaya terbantu pertumbuhan imannya dengan adanya tehnologi, atau justru sebaliknya, iman orang percaya menjadi runtuh karena tehnologi telah menggantikan peran Allah dalam hidup orang Kristen.
Lalu bagaimana seharusnya orang percaya menyikapi ilmu pengetahuan dan tehnologi yang telah sedemikian maju pada saat ini?
1. Allah adalah sumber pengetahuan (Amsal 1: 7)
"Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, ...."
Dimaksudkan dalam ayat ini bahwa, pengetahuan itu berasal atau bersumber dari Tuhan. Dan sikap diri yang takut akan Tuhan, akan menghasilkan pengetahuan yang benar serta dapat menggunakan pengetahuan tersebut dengan bijak untuk mengabdi kepada Tuhan dan kebaikan bagi sesama.
Karena pengetahuan tersebut berasal dari Allah, maka ilmu pengetahuan dan tehnologi memiliki keterbatasan. Seluruh ciptaan Allah atau yang berasal dari Allah memiliki keterbatasan, hanya Allah sendirilah yang sempurna dan tidak terbatas. Pesatnya ilmu pengetahuan manusia yang terus berkembang, dan hebatnya tehnologi yang ada sekarang, tetap saja tidak dapat membuktikan keberadaan Allah. Keberadaan Allah dan kehadiranNya dalam diri orang percaya hanya dapat dipahami dengan IMAN.

2. Orang Kristen harus dapat menguasai tehnologi dan bukan dikuasai oleh tehnologi. (1 Kor 6:12)
"Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak akan membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun. "
Rasul Paulus menjelaskan bahwa apa yang tidak melawan hukum-hukum Tuhan adalah sesuatu yang diizinkan, dan apa yang melawan hukum Tuhan artinya adalah jatuh kembali ke perbudakan yang lama yaitu perbudakan dosa.
Ilmu pengetahuan dan tehnologi hasil dari akal budi manusia diizinkan digunakan untuk mengupayakan kebaikan dan kesejahteraan hidup manusia. Akan tetapi ketika tehnologi yang merupakan hasil dari akal budi manusia yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia itu telah digunakan untuk menentang hukum Tuhan maka manusia akan kembali menjadi budak dosa.
Dan Allah tentunya akan memberikan hukuman kepada manusia yang telah menjadi budak dosa dengan membuat ilmu pengetahuan dan tehnologi sebagai "allah" yang karenanya manusia telah diperhamba. Seperti halnya Allah mengacaukan upaya orang-orang Babel yang membangun kota dan mendirikan menara dengan motivasi untuk mencari nama dan melawan Allah.

3. Tehnologi harus digunakan untuk memenuhi hukum Tuhan (Mat 22:37)
"Jawab Yesus kepadanya: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu."
Salah satu tujuan Allah menciptakan manusia berbeda dengan ciptaan Allah yang lain adalah agar manusia dapat bersekutu dengan Allah dan memuliakan namaNya. Untuk dapat bersekutu dengan Allah dan memuliakan namaNya maka manusia harus mengasihi Allah. Demikianlah salah satu hukum yang terutama yang diajarkan oleh Tuhan Yesus selain hukum untuk mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Dan mengasihi Tuhan Allah itu harus dilakukan dengan segenap hati, jiwa, dan AKAL BUDI.
Ketika akal budi yang diberikan Allah kepada manusia telah menghasilkan ilmu pengetahuan dan tehnologi, maka setiap hasil dari akal budi manusia harus digunakan untuk mengasihi Tuhan. Jadi apapun hasil-hasil dari tehnologi manusia pada masa kini harus digunakan untuk mengasihi Tuhan dengan cara memberikan dampak kebaikan dan kesejahteraan sesama manusia.
Akal budi manusia adalah anugerah Allah yang diberikan untuk kebaikan dan kesejahteraan manusia ciptaan Allah yang mulia. Melalui akal budi manusia maka berkembanglah ilmu pengetahuan dan tehnologi serta produk-produk dari tehnologi tersebut yang ada pada kita saat ini dan yang bermanfaat untuk kebaikan hidup kita dan sesama.
Akan tetapi Ilmu pengetahuan dan teknologi memilki dua sisi, yaitu sisi negatif dan sisi positif. Bailklah kita sebagai orang percaya harus bisa menggunakan teknologi dan produk-produk tehnologi tersebut untuk hal-hal yang positif, dan tujuan utamanya adalah untuk memuji dan memuliakan nama Allah pencipta langit dan bumi serta isinya. AMIN. Soli Deo Gloria

Thursday, July 9, 2015

NUH SEBAGAI SAKSI IMAN

NUH SEBAGAI SAKSI IMAN
Ibrani 11: 7

Kitab Ibrani mengisahkan kembali seorang tokoh dalam Perjanjian lama yaitu Nuh. Belajar tentang kisah kehidupan Nuh selalu saja mengingatkan kita akan cerita guru sekolah minggu di gereja pada masa yang lalu. Yaitu bagaimana Nuh yang membuat bahtera yang besar diatas gunung, dan Nuh yang mengumpulkan semua binatang yang ada didunia masing-masing sepasang didalam bahtera yang dibuatnya. Akan tetapi penulis kitab Ibrani tidak hanya melihat kisah hidup Nuh hanya sebagai satu peristiwa sejarah atau bagaimana Allah menghukum dunia yang jahat dengan air bah. Tapi disini penulis kitab Ibrani lebih melihat kisah hidup Nuh dalam peristiwa Allah menghukum dunia dengan air bah sebagai saksi iman. Kesaksian Nuh yang hidup dalam iman dan ketaatannya akan Firman Tuhan inilah yang ingin ditonjolkan dalam kitab Ibrani ini.
Dalam Ibrani 11: 7 ini setidaknya ada tiga kata / ungkapan iman yang ditampilkan oleh penulis kitab Ibrani yang dapat kita pelajari, yaitu:

1. Karena iman Nuh taat kepada Allah.
Ayat ini diawali dengan, "Karena iman, maka Nuh - dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan - dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya "(Ibrani 11: 7).
 Disini Allah telah mengatakan kepada Nuh tentang sesuatu yang belum terjadi, bahkan yang belum pernah terjadi pada masa hidup Nuh. Yaitu akan datangnya hukuman Allah terhadap generasi yang jahat, "Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata," (Kej 6: 5) sehingga Allah mengatakan kepada Nuh, "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi "(Kej 6:13).
Allah berfirman kepada Nuh "tentang sesuatu yang belum terlihat", dan Nuh mempercayainya dengan penuh iman karena Allah sendiri yang mengatakannya. Meskipun hukuman Allah terhadap semua makhluk dibumi dengan air bah belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan pada saat itu belum pernah ada hujan turun dari langit, seperti yang dikatakan dalam kitab Kejadian 2: 5-6, "belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh -tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu ". Tetapi Nuh percaya kepada Allah ketika ia diperingatkan "tentang sesuatu yang belum kelihatan" itu, dan itulah apa yang disebut IMAN seperti yang dikatakan penulis kitab Ibrani "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" ( Ibrani 11: 1).
Dan salah satu ujian bagi IMAN adalah "waktu". Pada waktu menerima firman, usia Nuh pada waktu itu 480 tahun. Dan saat air bah melanda, usia Nuh pada waktu itu 600 tahun. Untuk membuktikan bahwa apa yang dikatakan Allah tentang penghukuman dengan air bah itu benar, Nuh harus menunggu dengan penuh kesabaran selama 120 tahun. Dan dalam kurun waktu 120 tahun itu Nuh beriman dan taat kepada Allah meskipun arus dunia pada waktu itu bertentangan dengan imannya, dan Nuh harus menghadapi cemoohan dari orang-orang sebangsanya yang dapat melemahkan imannya kepada Allah.
Inilah IMAN dari Nuh yang dimaksud dalam kitab Ibrani, yaitu:
a. Percaya kepada Tuhan untuk sesuatu yang belum terlihat.
b. Kesabaran dalam menunggu sesuatu yang belum terlihat itu.

2. Hidup Nuh digerakkan oleh iman
Selanjutnya dalam Ibrani 11: 7 dikatakan, "Karena iman, maka Nuh - dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan - dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya "
Disini iman Nuh yang penuh keyakinan tentang "sesuatu yang belum terlihat" menghasilkan TINDAKAN iman.
Iman itu tidak cukup hanya dengan percaya, tetapi lebih dari itu dalam iman harus disertai dengan suatu TINDAKAN yang berdasarkan iman yang diyakini tersebut.
Dan TINDAKAN iman Nuh dalam hal ini adalah mempersiapkan bahtera tepat seperti yang Allah firmankan. Meskipun tindakan iman Nuh dinilai suatu tindakan yang "bodoh" oleh orang-orang pada masa itu karena membuat bahtera diatas gunung yang jauh dari air, sementara pada saat itu belum ada hujan yang turun ke bumi. Akan tetapi dengan setia Nuh terus mengerjakannya sampai bahtera itu siap dan penghukuman Allah itu datang.
Selanjutnya Nuh tidak menjadi puas diri ketika mendengar bahwa ia mendapatkan anugerah keselamatan dari Allah ditengah penghukuman Allah atas dunia yang jahat dengan air bah. Nuh tidak puas menjadi orang yang diselamatkan sendirian, dan ia juga sangat peduli terhadap keselamatan keluarganya. Ia ingin keluarganya juga turut diselamatkan, sehingga ia membuat ruang bagi mereka di dalam bahtera itu. Nuh "dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya".
TINDAKAN IMAN Nuh yang dimaksudkan dalam kitab Ibrani ini adalah,
a. Nuh mengerjakan anugerah keselamatan yang diterimanya dari Allah dengan membuat bahtera keselamatan.
b. Untuk penghargaan keselamatan yang diterimanya, Nuh juga menyelamatkan keluarganya.

3. Nuh menerima kebenaran sesuai dengan imannya.
 "Karena iman, maka Nuh - dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan - dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya "(Ibrani 11: 7).
Nuh hidup beriman kepada Allah, dan dalam imannya ia mengerjakan pembuatan bahtera dan menyelamatkan keluarganya. Dari iman dan tindakan Nuh ini, maka ia menerima kebenaran dari Allah sesuai dengan imannya.
Dalam hal hidup dalam KEBENARAN, Nuh bukanlah manusia yang sempurna dan tanpa dosa, Nuh adalah juga seorang yang berdosa sama seperti setiap manusia pada umumnya. Pada satu kali Nuh pernah minum anggur sampai mabuk, Kej. 9: 20-21 "Nuh menjadi petani; dialah yang pertama kali membuat kebun anggur. Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya. "
Tapi karena iman Nuh yang mau taat kepada Firman Allah, maka iman Nuh diperhitungkan Allah sebagai KEBENARAN. Tepat seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus dalam Roma 3: 27-28, "Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. "
Nuh dibenarkan bukan karena hidup Nuh itu sendiri, tapi semata-mata karena kasih karunia Allah yang diberikan kepada Nuh yang hidup beriman kepada Allah ditengah bangsa yang jahat dimata Tuhan.

Mengingat penghukuman Allah pada masa Nuh karena kehidupan manusia yang telah demikian jahatnya "Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata," (Kej 6: 5). Kita yang hidup di zaman akhir ini juga diingatkan dengan apa yang difirmankan oleh Tuhan Yesus, "Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia "(Matius 24: 37-39).
Setiap tanda-tanda yang muncul karena kejahatan manusia pada saat ini menunjukkan bahwa kita sekarang juga sedang hidup pada zaman itu, "sebagaimana pada zaman Nuh" demikian dikatakan Tuhan Yesus. Banyak orang hanya peduli dengan hal-hal materi dalam kehidupan tanpa menghiraukan penderitaan sesama dan juga tidak peduli dengan Tuhan, sementara kejahatan manusia merajalela dan manusia telah jauh meninggalkan Allah. Inilah saatnya bagi orang percaya untuk hidup didalam iman kepada Kristus yang adalah "bahtera" keselamatan kita, dan kehidupan kita senantiasa digerakkan oleh iman percaya kepadaNya. Maka iman kita itu akan diperhitungkan Allah sebagai KEBENARAN, dan kita akan mendapatkan hak untuk diperkenankan masuk "bahtera" Allah dalam kehidupan kekal. Soli Deo Gloria!

Saturday, June 20, 2015

ROH KUDUS & PEKABARAN INJIL


ROH KUDUS & PEKABARAN INJIL
Kisah Para Rasul 1: 8; 8:26-40.

Dalam Kis.1:8 dicatat bahwa sesaat sebelum Tuhan Yesus naik kesurga, Dia mengutus para rasul dan orang-orang percaya pada waktu itu untuk menjadi saksi-saksi bagi Kristus, sekaligus menekankan pemberitaan tentang keberadaan Roh Kudus yang akan menyertai mereka dalam mengabarkan Injil. Dan secara geografis Tuhan Yesus menyebut bahwa tugas pekabaran Injil tersebut dimulai dari Yerusalem, dan diseluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (global)
Peran Roh Kudus menurut Kisah Para Rasul 1:8 ini adalah: yang pertama, kehadiran Roh Kudus atas pribadi para rasul dan orang percaya pada waktu itu membuat mereka memiliki wibawa/otoritas ilahi khususnya dalam pekabaran Injil. Dan yang kedua, Roh Kudus berperan untuk menjadikan para rasul dan orang percaya pada waktu itu untuk menjadi saksi bagi Kristus. Jadi jelas disini, bahwa Roh Kuduslah yang menggerakkan para rasul dan orang percaya untuk menjalankan misi pekabaran Injil.
Di dalam Kis. 8:26-40 ada salah satu tokoh pekabar Injil bernama Filipus. Siapakah Filipus yang dimaksudkan dalam hal ini?
·         Dalam Kis. 6:1-7 disebutkan bahwa Filipus adalah salah satu dari 7 orang yang penuh Roh Kudus dan berhikmat yang ditetapkan oleh para rasul sebagai pelayan meja (diaken).
·         Dalam Kis. 8:4-8 Filipus pergi ke Samaria untuk mengabarkan injil. Dalam pemberitaan Injil di Samaria, orang-orang dikota itu melihat tanda-tanda yang menyertai pemberitaan Injil Filipus yaitu mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan orang yang lumpuh dan timpang. Sehingga didalam Kis. 8:6 dicatat bahwa orang-orang di kota Samaria “.... mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu”. Filipus dalam pekabaran Injil di kota Samaria telah dapat memenangkan banyak jiwa.
·         Dalam Kis. 8: 26-40 Tuhan melalui malaikatNya mengutus Filipus pergi ke jalan yang sunyi untuk memberitakan Injil kepada seorang sida-sida, kepala perbendaharaan Sri Kandake, Ratu negeri Etiopia.
·         Kis. 8:40 Filipus dibawa oleh Roh Kudus untuk mengabarkan Injil ke Asdod dan Kaisarea.
·         Selanjutnya Filipus tinggal dan menetap di Kaisarea,  dia membuka pintu rumahnya untuk persinggahan para pekabar Injil. Rasul Paulus dan kawan-kawan yang dalam perjalanan mengabarkan Injil di kota Kaisarea juga singgah dirumah Filipus (Kis. 21:8)
Filipus adalah salah satu tokoh Alkitab yang setia melayani dan mengabarkan Injil, dan ia adalah seorang yang setia terhadap pimpinan Roh Kudus. Sehingga Injil tidak lagi terbatas pada Yerusalem, Yudea, dan Samaria saja, melalui Filipus Injil telah keluar dari batas Yerusalem, Yudea, Samaria dan menuju ujung bumi, menggenapi janji Tuhan dalam Kis.1:8.
Dari pengalaman kehidupan dan pelayanan Filipus kita belajar dua hal, khususnya tentang pimpinan Roh Kudus dan tugas pekabaran injil,
1.       Filipus adalah jemaat yang setia melayani dan mengabarkan Injil (Kis 6:1-7; 8:5,40)
Dalam Kis. 6:1-7 dikisahkan bahwa orang-orang Kristen Yahudi berbahasa Yunani mengeluh kepada para rasul, karena pembagian makanan terhadap janda-janda Kristen yang berkebangsaan Yunani terabaikan dalam pelayanan sehari-hari. Maka kemudian keduabelas rasul memilih dan menetapkan tujuh orang dari kalangan jemaat untuk melayani sebagai pelayan meja. Mereka yang terpilih adalah orang-orang yang penuh Roh Kudus dan berhikmat untuk mengurus masalah tersebut. Dan diantara tujuh orang itu, adalah Filipus yang penuh Roh Kudus dan berhikmat yang mau memberi diri untuk melayani dalam pelayanan meja.
Pelayanan Filipus tidak berhenti disitu saja, dalam Kis. 8:5 dikatakan bahwa Filipus pergi ke Samaria untuk memberitakan injil.
Pemberitaan injil oleh Filipus juga tidak lantas berhenti di kota Samaria, namun terus merambah pada orang-orang non Yahudi. Filipus mengabarkan Injil kepada sida-sida Ethiopia, dan selanjutnya terus mengabarkan Injil ke kota-kota di Asdod hingga ke kota Kaisarea (Kis 8:40).
                Perintah Tuhan Yesus untuk menjadi saksi-saksi bagi Kristus dalam Kis. 1:8 bukan hanya ditujukan kepada para rasul saja, akan tetapi juga ditujukan kepada orang-orang percaya yang menyaksikan kenaikanNya ke surga. Akan tetapi dalam pelaksanaannya pada masa kini, justru jemaat Tuhan seringkali mengkotak-kotakkan tugas dalam pelayanan dan pekabaran Injil. Jemaat yang ambil bagian dalam pelayanan membatasi diri untuk melayani Tuhan hanya sebatas pelayanan meja, dan pekerjaan pekabaran Injil dipercayakan penuh pada para pelayan Tuhan di gereja.
Melalui salah satu tokoh alkitab yang kita bahas saat ini yaitu Filipus, kita mendapat satu teladan dalam hal melayani Tuhan dan mengabarkan Injil dari seorang yang bukan dari kalangan para rasul. Walaupun bukan dari kalangan para rasul Filipus begitu setia menjadi alat ditangan Tuhan untuk menjadi saksi bagiNya keluar dari batas Yerusalem, Yudea dan Samaria untuk menuju ke ujung bumi (global).
Marilah di masa-masa terakhir ini, kita mengerjakan tugas pemberitaan Injil dengan tidak memperdebatkan dan mempermasalahkan ini adalah tugas siapa? Tetapi kita bersiap sedia untuk menjadi alat ditanganNya untuk menggenapi firmanNya dalam Kis.1:8 melalui diri kita dan karya-karya pelayanan kita yang lebih luas.

2.       Filipus adalah hamba yang taat dan setia mengikuti pimpinan Roh Kudus (Kis 6:5; 8:26,29,39)

Dari pengalaman hidup Filipus yang setia melayani Tuhan dan mengabarkan Injil, kita juga belajar pelajaran lain dari Filipus yang setia mengikuti pimpinan Roh Kudus.
Dalam Kis.8:4-25 kita dapat membaca “buah yang luar biasa” dari pelayanan Filipus di kota Samaria. Di sana Filipus memberitakan Injil, dan Tuhan menyertai dia dengan kuasa dan mujizat. Dan hasilnya adalah, satu kota mengalami sukacita besar (Kis 8:8). Kesetiaan Filipus dalam mengikuti pimpinan Roh Kudus semakin nampak pada Kis. 8:26,  Tuhan melalui malaikatNya datang kepada Filipus dan mengutusnya pergi ke jalan sunyi, untuk menginjili hanya satu orang saja! Filipus diminta meninggalkan jiwa-jiwa yang jumlahnya satu kota, demi menginjili satu orang saja dan dalam hal ini Filipus terbukti setia terhadap pimpinan Roh Kudus.
Dan ketika Filipus berjumpa dengan sida-sida Ethiopia itu, Roh Kudus memerintahkan kepada Filipus, “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!” (Kis. 8:29) Apa respon Filipus terhadap perintah Roh Kudus ini? Alkitab mencatat, “Filipus segera ke situ.” (Kis. 8:30) Ini adalah satu bukti ketaatan dan kesiap sediaan Filipus untuk hidup dipimpin Roh Kudus walau mengabarkan injil pada satu orang saja. Dan selanjutnya Filipus tetap setia dipimpin Roh kudus untuk mengabarkan Injil ke semua kota di Asdod hingga sampai ke kota Kaisarea “Tetapi ternyata Filipus ada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea.” (Kis 8:40)
Pimpinan Roh Kudus itu dapat berupa dorongan kuat yang Tuhan munculkan di hati kita, ingatan-ingatan akan Firman Tuhan di dalam batin atau pikiran kita, suara lembut yang berbisik sebagai sebuah kesan di dalam hati kita, dan dapat juga melalui suara yang keluar dari mulut sesama kita yang dapat didengar telinga namun sesuai dengan prinsip kebenaran Firman Tuhan. Kita tidak boleh membatasi pekerjaan Roh Kudus untuk menuntun kita pada kebenaran termasuk di dalam hal pemberitaan Injil, sehingga kita dapat melihat pekerjaan-pekerjaan heran karena Tuhan sendirilah yang mengerjakannya melalui diri kita.
Memahami peran Roh Kudus dalam pekabaran Injil pada gereja mula-mula, maka kita akan melihat bagaimana Roh Kudus menggerakkan orang percaya untuk melayani dan mengabarkan Injil. Dan Filipus adala salah satu dari sekian banyak orang percaya pada masa itu yang digerakkan Roh kudus untuk mengabarkan Injl. Gereja mula-mula pada masa para rasul tidak akan pernah ada dan berdiri, jika Roh Kudus tidak menggerakkan para rasul dan orang-orang percaya pada waktu itu untuk mengabarkan injil. Dan pada perkembangannya pekabaran Injil menjadi suatu bidang pelayanan yang sangat penting bagi gereja disepanjang masa. Dan untuk misi pekabaran injil itu, Kristus telah menyatakan bahwa Roh Kudus yang akan memberikan kemampuan bagi gereja-gereja Tuhan untuk menjalankan tugas pekabaran injil tersebut. Karena itu, gereja hendaknya membuka diri untuk dipimpin oleh Roh Kudus, agar pelayanan pekabaran injil benar-benar menjadi suatu bidang pelayanan penting bagi gereja sesuai dengan pengutusannya. Amin. Soli Deo Gloria.





SUKACITA KARENA KENAIKAN TUHAN YESUS KE SURGA


SUKACITA KARENA KENAIKAN TUHAN YESUS KE SURGA
Lukas 24: 50-53; Yohanes 14:1-6
            Dalam setiap acara perpisahan selalu saja merupakan peristiwa yang mengharukan dan menguras emosi bagi mereka yang akan berpisah, apalagi perpisahan itu adalah dengan orang yang sangat dikasihi. Perasaan haru yang muncul dikarenakan adanya ikatan emosional dalam diri mereka yang hendak berpisah, karena sekian waktu lamanya mereka menghabiskan waktu bersama baik dalam suka maupun duka.  Akan tetapi dalam peristiwa perpisahan Tuhan Yesus dan murid-muridNya yang dituliskan dalam Injil Lukas justru memberikan gambaran yang sebaliknya, “Mereka sujud menyembah kepadaNya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita (Lukas 24:52)
Apa yang menjadi dasar bagi para murid untuk bersukacita karena perpisahan dengan Tuhan Yesus yang naik ke surga?
Setiap peristiwa yang Tuhan Yesus alami saat kehadirannya didunia, baik kelahiran, kematian, kebangkitan, dan kenaikanNya ke surga telah dinubuatkan didalam kitab suci. Demikian juga dalam hal kenaikanNya ke surga, sebelum Tuhan Yesus ditangkap dan dihukum mati diatas kayu salib, Tuhan Yesus telah menubuatkan tentang kenaikanNya ke surga (Yohanes 14:1-6). Dan dalam nubuatanNya yang disampaikan kepada para murid, Tuhan Yesus juga menyatakan tentang tujuanNya naik kesurga.
Dan tujuan dari kenaikan Tuhan Yesus ke surga inilah yang membuat para murid demikian bersukacita saat Tuhan Yesus berpisah dengan mereka.
Apa tujuan Tuhan Yesus naik kesurga? dan apa korelasinya bagi orang percaya saat ini?
1.       Untuk menyediakan tempat bagi orang yang percaya kepadaNya. (Yoh 14:2)
Dalam nubuatan tentang kenaikanNya ke surga dalam Yohanes 14:1-6, Tuhan Yesus mengajak para murid untuk memandang dengan mata iman jauh kedepan, yaitu memandang kepada kerajaan surga. Karena apabila hanya memandang keadaan dunia ini, yang ada dalam dunia ini adalah “kegelisahan”. Untuk itu Tuhan Yesus katakan, “Janganlah gelisah hatimu....” (ayat 1)
Dunia ini sudah diliputi oleh kuasa dosa, sehingga orang yang tinggal didunia ini akan selalu diliputi oleh kegelisahan, ketakutan dan kekhawatiran akan hidup dan masa depannya.
Oleh karena itu Tuhan Yesus mengajarkan kepada para muridNya untuk mengarahkan pandangannya ke surga. Karena disurga dikatakan Tuhan Yesus banyak tempat tinggal yang disediakan bagi orang percaya. Tempat tinggal yang tidak tercemar oleh kuasa dosa, tidak ada kegelisahan, ketakutan dan kekhawatiran, yang ada adalah damai sejahtera dan sukacita kekal. Dan kesanalah (ke surga) Tuhan Yesus pergi untuk menyediakan tempat bagi para murid dan orang-orang yang percaya kepadaNya.
Inilah alasan para murid untuk mereka “sangat bersukacita” saat berpisah dengan Tuhan Yesus yang naik ke surga (Lukas 24:52).
2.       Dari sana Dia akan menjemput kita. (Yoh 14:3)
Setiap manusia sadar bahwa kehidupan didunia ini cuma sementara, dan selama hidup didunia yang berdosa ini manusia akan banyak mengalami kegelisahan dan dukacita. Oleh karena itu manusia merindukan satu tempat yang penuh dengan sukacita dan damai sejahtera dan yang bersifat kekal, yaitu kerajaan surga. Akan tetapi dalam perjalanan hidupnya manusia yang berdosa tidak mengetahui bagaimana jalan untuk kesana (surga). Kerinduan manusia yang berdosa untuk dapat masuk kerajaan surga diwakili oleh pertanyaan Thomas kepada Tuhan Yesus, “....jadi bagaimana kami tahu jalan kesitu?” (ayat 5) Untuk pertanyaan Thomas yang juga menjadi pertanyaan banyak orang yang mencari “jalan” menuju ke surga, Tuhan Yesus katakan “...Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (ayat 6)
Tuhan Yesus yang telah naik ke surga adalah “Jalan” untuk menuju ke kerajaan surga. Tuhan Yesus bukan sekedar memberi “petunjuk” akan jalan ke surga seperti kebanyakan para “tokoh agama” didunia ini, tetapi dengan tegas Tuhan Yesus katakan bahwa Dia adalah “Jalan” itu sendiri. Penegasan bahwa Tuhan Yesus adalah “Jalan” untuk menuju ke surga bukan hanya ditujukan kepada Thomas, tetapi juga ditujukan kepada setiap orang yang masih ragu akan jalan yang benar menuju ke surga.
Dan Tuhan Yesus yang adalah “Jalan, dan kebenaran dan hidup” yang telah naik kesurga itulah yang akan datang kembali untuk menjemput saleh-salehNya. Dan orang percaya tidak lagi harus disibukkan untuk  mencari “dimana kerajaan surga itu?” Tetapi Tuhan Yesus yang telah naik kesurga itulah yg akan datang menjemput, untuk meninggalkan segala “kegelisahan” dunia yang berdosa ini, dan selanjutnya menikmati kehidupan yang penuh damai sejahtera yang bersifat kekal  dalam kerajaan surga.
            Disaat Tuhan Yesus belum datang untuk menjemput, apa yang dikerjakan oleh para murid dan orang percaya pada waktu itu?
Dalam Injil lukas 24:53 dikatakan, “Mereka senantiasa berada didalam Bait Allah dan memuliakan Allah”.
Setelah Tuhan Yesus naik ke surga, mereka tetap memelihara iman kerohaniannya dengan cara “hidup beribadah” dan “memuliakan Allah”,  supaya iman kerohanian mereka tetap “terjaga” menjelang kedatangan Tuhan yang kedua kali sesuai dengan janjiNya (Yoh 14:3).
Orang-orang yang beriman dan percaya kepadaNya saat ini juga sedang dalam keadaan menanti-nantikan kedatangan Tuhan Yesus untuk kali yang kedua. Apa yang harus kita kerjakan saat ini sehingga kita dapat menantikan kedatanganNya yang kedua nanti dengan penuh sukacita?
~ Soli deo Gloria! (Berkat dan Rahmad. Josafatagung88.blogspot.com)

Thursday, April 23, 2015

PARA WANITA DALAM PERISTIWA KEBANGKITAN


PARA WANITA DALAM PERISTIWA KEBANGKITAN
Markus 16:1-8; 1 Korintus 15:3-4

Di dalam Alkitab, kaum wanita memang sudah lama hidup dalam masyarakat patriarkhal karena umumnya mereka tinggal di lingkungan rumah atau keluarga yang seringkali mendapat perlindungan dari ayah, suami atau laki-laki lain dalam keluarga tersebut, kecuali beberapa wanita yang mampu menjadi pemimpin.
Banyak pandangan atau pendapat yang mengatakan bahwa dalam Perjanjian Lama kedudukan seorang perempuan dianggap kurang penting dan kurang diperhitungkan keberadaannya. Hal ini nampak pada bentuk kemasyarakatan dalam tradisi dan budaya Israel yang menganut system/hubungan kekeluargaan. Sistem/hubungan kekeluargaan ini dipelihara dalam bentuk silsilah. Silsilah ini tidak hanya menggambarkan hubungan darah, tetapi juga hubungan ekonomi, status sosial, dan kekuasaan yang dapat terlihat di dalam satu kelompok/suku.
Seorang ayah atau laki-laki dewasa juga sangat berperan untuk maju berperang demi melindungi negerinya dan keluarganya, sehingga dalam kebudayaan Israel, ayah atau laki-laki dewasa memiliki peranan yang sangat penting.

Akan tetapi di dalam masa pelayanan Tuhan Yesus, Tuhan Yesus seringkali bertemu dan berbicara dengan beberapa wanita sedemikian akrabnya, seperti halnya pada wanita Samaria di sumur Yakub yang akhirnya wanita tersebut menjadi saksi bagi banyak orang, khususnya di kota Samaria itu (Yoh 4:1-42). Tatkala seorang wanita yang tertangkap sedang berzinah dihadapkan kepadaNya, dengan lemah lembut Ia berkata kepadanya dan tidak menghukumnya (Yoh 8:1-11). Pada kesempatan lain, Tuhan Yesus mengizinkan seorang pelacur mendatangiNya ketika Ia sedang makan untuk membasahi kaki-Nya dengan air matanya, menyeka dengan rambutnya dan mencium kaki-Nya (Luk 7:36-50). Pada saat Ia bergumul menghadapi kematian, seorang wanita datang mengurapi-Nya dengan minyak narwastu. Para wanita juga yang berani berada dekat dengan Dia ketika dipaku di atas kayu salib dan mereka menyaksikan kematian-Nya. Mereka tidak pernah menyangkal Yesus, melainkan terus menyertai Yesus hingga Ia mati dan mayat-Nya diletakkan dalam lubang kubur. Selama kehidupan-Nya, Tuhan Yesus telah memperlihatkan sikap yang terbuka terhadap kaum wanita sama seperti kepada kaum pria.

Dalam peristiwa kebangkitan Kristus yang dikatakan oleh rasul Paulus didalam 1 Korintus 15:3-4 sebagai “hal yang sangat penting” dalam iman kristen, karena melalui penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus inilah orang percaya telah dilepaskan dari kuasa dosa dan dari murka Allah. Dan kebangkitan Kristus memberikan jaminan serta pengharapan iman bagi orang percaya “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1 Kor 15:17).
Disini rasul Paulus menekankan bahwa kematian dan kebangkitan Kristus adalah rangkaian peristiwa yang menjadi inti Injil. Ia mati karena dosa-dosa manusia, dikuburkan dan dibangkitkan pada hari yang ketiga sesuai Kitab Suci (Yes 53:4-6,8,11-12; Hos 6:2; Yun 1:17).
Pada peristiwa kebangkitan Kristus sebagai suatu “hal yang sangat penting” seperti yang dikatakan rasul Paulus itulah ternyata memperlihatkan kepada kita tentang pentingnya peranan wanita.
Ada beberapa wanita yang menjadi saksi mata yang menyaksikan peristiwa kebangkitan itu untuk yang pertama kali. Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, dan Salome adalah mereka yang pertama kali diberi kepercayaan untuk mewartakan peristiwa kebangkitan Kristus tersebut. Sedangkan para murid Tuhan Yesus yang dianggap sebagai laki-laki yang lebih gagah dan kuat justru digambarkan sebagai orang yang mula-mula kurang percaya dan ragu-ragu terhadap kabar baik tentang kebangkitan Kristus.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam peristiwa kebangkitan Kristus yang disaksikan para wanita itu:

1.Kunjungan para wanita dikubur Yesus.(Markus 16:1-5)
Tujuan para wanita berkunjung ke kubur Yesus adalah untuk meminyaki mayat Yesus sebagai bentuk hormat dan kasih mereka kepadaNya menurut adat/kebiasaan mereka.
Ada satu hal yang mereka cemaskan saat mereka datang kekubur Yesus, "Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?", kata mereka seorang kepada yang lain. Kecemasan dan keluhan itu wajar karena keterbatasan fisik para wanita itu, karena batu penutup lubang kubur sangat besar. Tetapi apa yang mereka anggap sebagai kesulitan justru diselesaikan Allah bagi mereka. Ketika mereka berada dekat dengan kuburan, mereka melihat bahwa batu yang sangat besar itu sudah terguling.
Keterbatasan fisik pada wanita apabila dibandingkan dengan kaum pria inilah yang seringkali membuat wanita “seolah” tidak berdaya dalam keterbatasannya tersebut. Kecemasan yang muncul akibat keterbatasan fisik wanita ini seringkali justru membuat potensi sebenarnya yang ada dalam diri wanita sulit untuk berkembang. Dan yang lebih daripada hal itu, kecemasan dalam diri wanita akan keterbatasannya justru dapat mempersempit ruang gerak iman dan pengharapan kepada Tuhan untuk dapat bertumbuh. Sehingga yang dilihat hanyalah masalah yang ada didepannya dan ketidakberdayaannya dalam menghadapi masalah tersebut. Sehingga kemudian gagal untuk dapat melihat Tuhan dan kuasaNya yang ajaib yang ada dibalik permasalahan yang muncul.
Dalam peristiwa kebangkitan Kristus yang disaksikan oleh para wanita yang datang ke kubur Yesus, kesulitan yang muncul tentang siapa yang akan menggulingkan batu besar penutup kubur Yesus dikerjakan secara sempurna oleh Allah sendiri.

2. Respon terhadap berita dan perintah yang disampaikan malaikat. (Markus 16:7)
Respon para wanita tersebut ketika menyaksikan mayat Yesus sudah tidak ditempatnya dan mereka melihat malaikat Tuhan berdiri disitu adalah takut, gentar dan dahsyat. Hal ini juga menimbulkan ketidakpercayaan serta keragu-raguan. (bdk. Mat 28:17). Tetapi kepada mereka yang sedang diliputi ketakutan dan keraguan tersebut, malaikat Tuhan yang berada dikubur Yesus katakan “Jangan takut!”.
Menjadi saksi bagi peristiwa kebangkitan Kristus diawali dengan penegasan Allah sendiri melalui malaikat-Nya, bahwa Yesus telah bangkit! Namun penegasan itu tidak akan ada artinya bila para wanita itu masih dikuasai oleh rasa ketakutan. Oleh karena itu, "Jangan takut" adalah pernyataan pertama yang paling dibutuhkan oleh orang yang mau menjadi saksi kebangkitan Kristus. Mereka  yang takut, Tuhan berikan penghiburan dan peneguhan untuk memiliki hati yang berani. Dan dengan keberanian yang baru itu, para wanita itu siap menerima kabar baik bahwa Yesus telah bangkit, dan kemudian siap menjadi saksi bagi kebangkitan Kristus.Mereka kemudian menyampaikan berita kebangkitan itu kepada murid-murid laki-laki Yesus, yaitu Petrus dan teman-teman, dan pada akhirnya berita kebangkitan Kristus itu terus tersebar semakin luas dan semakin jauh sampai ke masa kini.

Para wanita memegang peranan penting dalam pelayanan, kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus. Tuhan Yesus tidak mengabaikan peranan para wanita dalam melayani-Nya semasa hidup dan pelayananNya didunia ini. Perempuan yang mengiring pelayanan Tuhan Yesus diberi tempat dan tanggung jawab yang tidak kalah pentingnya dari para murid yang laki-laki.  Di hadapan Allah, perempuan sepadan dengan laki-laki. Artinya, tidak lebih rendah atau lebih tinggi, karena Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam sebagai "penolong yang sepadan" bagi Adam (Kej. 2:18, 21-22). Soli Deo Gloria!